Skip to main content

A Day To Remember #5

 

Proses Healing

Mungkin orang lain melihat saya seolah-olah hidup saya selalu baik-baik saja dan selalu dipenuhi kebahagiaan (Alhamdulillah saya Aamiin-kan dulu kalau benar ada yang mengira seperti ini). Tapi nyatanya tidak banyak orang yang tahu soal sisi kelam saya, selain orang-orang terdekat (keluarga dan sahabat).

Semua masalah bisa saya kendalikan dan selesaikan satu per satu tentunya karena saya sudah melewati proses pemulihan yang sangat panjang. Saya tidak sendirian, saya punya Allah yang tidak akan pernah berpaling dari saya (Allah yang memberikan saya ujian, Allah jugalah yang memberikan saya nikmat setelahnya). Proses pemulihan secara spiritual yang saya lakukan adalah dengan mulai rajin mengikuti kajian-kajian beberapa ustadz, baik online maupun offline yang selalu membuat hati kembali menjadi lebih tenang dan ikhlas dalam menjalani skenario kehidupan yang ada.

Bahkan saking sayangnya Allah pada saya, Allah undang saya untuk bertamu ke rumah-Nya (umroh) tepat di tahun yang sama saat saya sedang jatuh-jatuhnya dan hancur-hancurnya. Sungguh indah rencana-Nya yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Siapa sangka, saya manusia yang penuh dengan dosa ini diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki ke tempat suci. Saya pun langsung teringat sebuah quotes yang pernah saya baca "hadiah kadang tak selalu dibungkus dengan indah, kadang Allah membungkusnya dengan berbagai masalah tetapi di dalamnya terdapat banyak berkah dan hikmah—dan itu adalah hadiah terindah yang saya dapatkan setelah banyaknya masalah dan ujian yang telah saya lalui dan lewati, bisa dibilang juga sebagai proses healing terbaik dalam sejarah hidup saya yang akan selalu dikenang dan tidak akan pernah terlupakan seumur hidup.

Di samping itu, saya juga punya orang-orang terdekat yang selalu jadi best support system dan juga punya banyak teman-teman senasib sepenanggungan (sesama ibu tunggal) yang ada di komunitas Single Moms Indonesia dengan berbagai macam latar belakang (ada yang ibu tunggal karena pasangan meninggal, bercerai, sampai single mom by choice). Komunitas SMI ini tidak sengaja saya temui di sosial media (IG: @singlemomsindonesia) di awal tahun 2023 silam di saat awal-awal kehancuran saya. SMI merupakan sebuah rumah teduh bagi para ibu tunggal dimanapun berada agar bisa terus semangat, bangkit, dan berdaya. Sebuah komunitas yang selalu memberikan energi positif di dalamnya, bebas bercerita dan mengeluarkan keluh kesah tanpa perlu takut ada yang menghakimi. Dengan bergabung di komunitas SMI ini, tanpa disadari sedikit banyak membantu proses healing saya dan membuka mata saya bahwa ternyata masih ada banyak para ibu tunggal yang memiliki cerita kehidupan yang lebih menyedihkan dari saya—dan saya masih belum seberapa bahkan bisa dibilang tidak ada apa-apanya. Ya, ternyata saya tidak sendirian!

Comments

Popular posts from this blog

Agustus, untuk Harapan yang Tak Pernah Putus

  Welcome Agustus!!! Kenapa aku begitu semangat sekali menyambut bulan Agustus? Karena ini adalah bulan kelahiranku, dimana aku harus selalu bersyukur atas nikmat dan karunia yang Allah berikan untukku karena aku masih diberikan kesehatan dan umur panjang sampai hari ini. Sungguh, nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan? Dari banyaknya kesalahan dan kekhilafan kita, tapi Allah masih tetap memberikan nikmatnya untuk kita, tapi Allah masih sayang sama hamba-hamba Nya, tapi Allah selalu memaafkan dan mengampuni semua dosa-dosa kita. Agustus, untuk harapan yang tak pernah putus. Percaya nggak? Kalau kita mengulang doa-doa yang sama setiap hari setiap waktu, itu seperti seseorang yang mengayuh sepedanya untuk bisa sampai ke tempat tujuan akhirnya. Begitulah seperti doa. Jangan pernah lelah berdoa dan mengulang doa-doa yang sama. Jangan pernah malu sama Allah kalau kita punya banyak permintaan, keinginan, dan harapan. Tapi malulah kalau kita sebagai hamba Allah yang tidak berdaya ini ti...

A Day To Remember #6 - End

  Move On ! Kini saatnya saya untuk move on dan mulai bangkit dari keterpurukan! No man, no cry ! Hahaha. J Kerja, kerja, kerja, anak, anak, anak, sampai akhirnya tidak terasa sudah berjalan hampir mau 2 tahun ini saya menjalani peran sebagai ibu tunggal. Siapa sangka, ternyata saya bisa lho! Luar biasa bangganya saya pada diri sendiri yang sudah bisa bertahan sampai sejauh ini (yang kalau dipikir-pikir lagi, awalnya ragu akankah saya sanggup menjalaninya). Tetapi Allah menjadikan saya sangat kuat bahkan lebih kuat dari apa yang saya pikirkan dan bayangkan sebelumnya. Setiap orang pasti memiliki masa lalu (yang kelam), termasuk diri saya sendiri. Jadi untuk apa hanya fokus memikirkan masa lalu saja, sedangkan masa depan (yang indah) sudah menanti. Masa lalu itu bukan untuk diratapi, tetapi untuk diresapi dan dijadikan pelajaran sebagai bekal untuk menjalani masa depan yang lebih baik lagi. Doakan saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih tegar, kuat dan semangat lagi, yang...

Skala Prioritas

Berbicara tentang skala prioritas, setiap orang memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda-beda. Bagiku, prioritas adalah suatu hal yang sangat penting dalam hidup. Lebih kepada hati yang bergerak, bukan lagi soal ego yang berkehendak. Semenjak takdir merubah statusku menjadi seorang ibu tunggal selama hampir 3 tahun ini, aku dituntut untuk menjadi seorang wanita dan juga seorang ibu yang lebih kuat dan tangguh, terutama dalam menentukan sebuah pilihan dalam hidup, aku harus bisa membedakan mana yang menjadi prioritasku saat ini, dan mana hal yang perlu kukesampingkan, bukan lantas hal itu menjadi tidak penting buatku, tetapi karena ada hal lain yang sudah menjadi prioritasku. ANAK! Ya, kekuatan yang selama ini aku dapatkan berasal dari anak, seorang malaikat kecil yang Allah titipkan untukku 8 tahun lalu untuk menemani hidupku benar-benar bisa menjadi sumber kekuatan untukku. Separuh jiwaku ada dia. Separuh hatiku ada dia. Separuh nafasku ada dia. Separuh hidupku juga ada dia. Anak ...