Pernikahan = Kebahagiaan ?
Menikah
di usia 25 tahun memang cukup sering dijadikan sebagai salah satu patokan
kehidupan yang ideal bagi sebagian orang, dan saya sendiri termasuk salah satu
dari sekian banyak wanita yang memilih menikah di usia 25 tahun saat itu. Tidak
ada batasan yang pasti kapan usia ideal bagi seorang wanita untuk menikah,
semua kembali lagi pada kesiapan masing-masing individu.
Pernikahan
yang digadang-gadang akan menjadi sumber kebahagiaan dalam sebuah kehidupan
rumah tangga, nyatanya tidak berlaku di kehidupan saya sendiri. Pernikahan yang
saya jalani justru awal dari kesedihan dan kehancuran bagi saya. Pernikahan
menjadi sumber kebahagiaan jika kita menikah dengan pasangan yang tepat—tepat
disini adalah ketika keduanya bisa saling menerima, menghargai, menghormati,
dan memperlakukan pasangan masing-masing dengan sangat baik terlepas dari
segala kekurangan, kelemahan, dan keburukan yang dimiliki keduanya.
Di
kehidupan pernikahan saya, (mungkin) pasangan saya saat itu bisa menerima,
menghargai, dan menghormati saya tetapi dia tidak bisa memperlakukan saya
dengan baik. Saya selalu denial dengan keadaan yang ada. Saya menormalisasinya
dengan berpikir bahwa sejatinya kehidupan pernikahan memang seperti itu, ada
pasang surut, naik turun, kadang di 'atas', kadang di 'bawah', layaknya bumi
yang berputar. Ya memang benar seperti itu. Tetapi jika terus-terusan selama
bertahun-tahun selalu diperlakukan tidak baik oleh pasangan sendiri, apakah itu
kehidupan pernikahan yang sesungguhnya? Ini jugalah yang menjadi pertanyaan
saya selama bertahun-tahun lalu yang selalu menggelayuti pikiran saya.
Pada
akhirnya, ketika ditanya, apakah saya menyesal dengan keputusan menikah di usia
25 tahun saat itu? Jawabannya sama sekali tidak pernah menyesal dengan segala keputusan
apapun yang telah saya ambil dalam hidup saya. Tetapi yang saya sesali adalah
kenapa saya memilih menikah dengan laki-laki seperti itu? Seorang laki-laki
yang tidak pernah bisa memperlakukan pasangannya dengan baik, seorang laki-laki
yang seharusnya bertugas menjaga dan melindungi pasangannya dengan baik, justru
diperlakukan kebalikannya.
Dia
dengan mudahnya bersikap kasar dan keras kepada saya, ketika dimata dia saya
terlihat sedikit saja melakukan kesalahan (meski hanya masalah kecil dan sepele). Apa yang dia
lakukan ke saya setelah menikah ini sebenarnya mungkin tanpa sengaja pernah
dilakukannya dulu waktu masih proses pendekatan satu sama lain—waktu lagi
proses persiapan mau lamaran, dimana tiba-tiba saya dibentak olehnya pakai nada
tinggi dengan mata yang terbelalak (melotot). Sontak saya kaget sekali,
laki-laki yang akan saya pilih untuk dijadikan pasangan hidup ini, kok
tiba-tiba bisa bersikap seperti itu ke saya yang belum sah menjadi istrinya
ini.
Lalu,
pikiran saya menjadi bercabang, kalau sekarang saja dia bisa bersikap seperti
itu ke saya, bagaimana nanti setelah menikah? Apakah ini pertanda keburukannya
mulai terungkap dan terlihat? Apakah ini pertanda red flag yang ada pada
dirinya? Apakah ini salah satu petunjuk dari Allah dan saya harus mengakhiri
semuanya sekarang sebelumnya terlambat? Padahal hari lamaran sudah dekat dan
hanya tinggal menghitung hari saja. Apa kata keluarga besar saya nanti kalau
tiba-tiba saya membatalkan lamaran itu secara sepihak?
Tapi di sisi lain, saya terus berpikir positif, namanya orang sedang mempersiapkan sebuah acara penting dan besar dalam sejarah kehidupan dua insan manusia, apalagi sudah mau mendekati harinya, wajar saja pasti ada saja ujiannya. Emosi dan keegoan masing-masing menjadi terlihat satu sama lain. Saya pun denial dengan hal-hal yang sebenarnya itu adalah petunjuk tetapi saya selalu mengabaikannya.
Comments
Post a Comment