Skip to main content

A Day To Remember #1

Pernikahan = Kebahagiaan ?

Menikah di usia 25 tahun memang cukup sering dijadikan sebagai salah satu patokan kehidupan yang ideal bagi sebagian orang, dan saya sendiri termasuk salah satu dari sekian banyak wanita yang memilih menikah di usia 25 tahun saat itu. Tidak ada batasan yang pasti kapan usia ideal bagi seorang wanita untuk menikah, semua kembali lagi pada kesiapan masing-masing individu.

Pernikahan yang digadang-gadang akan menjadi sumber kebahagiaan dalam sebuah kehidupan rumah tangga, nyatanya tidak berlaku di kehidupan saya sendiri. Pernikahan yang saya jalani justru awal dari kesedihan dan kehancuran bagi saya. Pernikahan menjadi sumber kebahagiaan jika kita menikah dengan pasangan yang tepat—tepat disini adalah ketika keduanya bisa saling menerima, menghargai, menghormati, dan memperlakukan pasangan masing-masing dengan sangat baik terlepas dari segala kekurangan, kelemahan, dan keburukan yang dimiliki keduanya.

Di kehidupan pernikahan saya, (mungkin) pasangan saya saat itu bisa menerima, menghargai, dan menghormati saya tetapi dia tidak bisa memperlakukan saya dengan baik. Saya selalu denial dengan keadaan yang ada. Saya menormalisasinya dengan berpikir bahwa sejatinya kehidupan pernikahan memang seperti itu, ada pasang surut, naik turun, kadang di 'atas', kadang di 'bawah', layaknya bumi yang berputar. Ya memang benar seperti itu. Tetapi jika terus-terusan selama bertahun-tahun selalu diperlakukan tidak baik oleh pasangan sendiri, apakah itu kehidupan pernikahan yang sesungguhnya? Ini jugalah yang menjadi pertanyaan saya selama bertahun-tahun lalu yang selalu menggelayuti pikiran saya.

Pada akhirnya, ketika ditanya, apakah saya menyesal dengan keputusan menikah di usia 25 tahun saat itu? Jawabannya sama sekali tidak pernah menyesal dengan segala keputusan apapun yang telah saya ambil dalam hidup saya. Tetapi yang saya sesali adalah kenapa saya memilih menikah dengan laki-laki seperti itu? Seorang laki-laki yang tidak pernah bisa memperlakukan pasangannya dengan baik, seorang laki-laki yang seharusnya bertugas menjaga dan melindungi pasangannya dengan baik, justru diperlakukan kebalikannya.

Dia dengan mudahnya bersikap kasar dan keras kepada saya, ketika dimata dia saya terlihat sedikit saja melakukan kesalahan (meski hanya  masalah kecil dan sepele). Apa yang dia lakukan ke saya setelah menikah ini sebenarnya mungkin tanpa sengaja pernah dilakukannya dulu waktu masih proses pendekatan satu sama lain—waktu lagi proses persiapan mau lamaran, dimana tiba-tiba saya dibentak olehnya pakai nada tinggi dengan mata yang terbelalak (melotot). Sontak saya kaget sekali, laki-laki yang akan saya pilih untuk dijadikan pasangan hidup ini, kok tiba-tiba bisa bersikap seperti itu ke saya yang belum sah menjadi istrinya ini.

Lalu, pikiran saya menjadi bercabang, kalau sekarang saja dia bisa bersikap seperti itu ke saya, bagaimana nanti setelah menikah? Apakah ini pertanda keburukannya mulai terungkap dan terlihat? Apakah ini pertanda red flag yang ada pada dirinya? Apakah ini salah satu petunjuk dari Allah dan saya harus mengakhiri semuanya sekarang sebelumnya terlambat? Padahal hari lamaran sudah dekat dan hanya tinggal menghitung hari saja. Apa kata keluarga besar saya nanti kalau tiba-tiba saya membatalkan lamaran itu secara sepihak?

Tapi di sisi lain, saya terus berpikir positif, namanya orang sedang mempersiapkan sebuah acara penting dan besar dalam sejarah kehidupan dua insan manusia, apalagi sudah mau mendekati harinya, wajar saja pasti ada saja ujiannya. Emosi dan keegoan masing-masing menjadi terlihat satu sama lain. Saya pun denial dengan hal-hal yang sebenarnya itu adalah petunjuk tetapi saya selalu mengabaikannya.

Comments