Skip to main content

A Day To Remember #3


Keputusan Terberat

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun berlalu, pada akhirnya saya masih bisa bertahan menjalani toxic marriage life itu sampai akhirnya pikiran saya terbuka dan semakin paham bahwa memang benar pernikahan yang saya jalani ini tidak sehat setelah sekian lama saya selalu denial dengan apa yang telah terjadi.

Jauh sebelum saya 'melek' akan toxic marriage life ini, sebenarnya saya sudah sadar bahwa memang pernikahan saya ini sudah tidak beres bahkan dari sejak awal menikah sebelum akhirnya saya dinyatakan hamil. Kadang terbesit di pikiran ingin mengakhiri pernikahan saja (untungnya tidak sampai terpikir untuk mengakhiri hidup—amit-amit), tetapi niat itu kadang saya urungkan bahwa “masa iya baru mulai 'perang', saya sudah ingin menyerah saja”.

Saya ini bukan lagi seorang remaja yang sedang menjalani pendekatan dimana saat terjadi ketidakberesan dalam hubungan, bisa langsung mengeleminasi pasangan begitu saja di tengah jalan. Saya ini tengah menjalani kehidupan pernikahan—ibadah terpanjang dalam hidup, dan pertanggungjawabannya langsung ke Allah, jadi tidak boleh main-main dengan pernikahan. Makanya saya begitu denial dan berpikir ribuan kali ketika mencoba ingin mengakhiri semuanya dan terus berusaha menjalani kehidupan rumah tangga dengan normal-normal saja seolah-olah terlihat semuanya baik-baik saja, padahal kondisi di dalamnya sudah hancur lebur babak belur.

Mungkin selama bertahun-tahun saya hanya diam, tetapi dalam diam saya, otak saya terus berputar dan berpikir apa yang harus saya lakukan. Tidak mungkin saya terus hidup berdampingan dengan manusia seperti itu, karena seumur hidup itu terlalu lama untuk dihabiskan dengan orang-orang yang tidak bisa memperlakukan kita dengan baik. Akhirnya dengan berat hati, saya harus memutuskan untuk memilih jalan terakhir karena memang sudah tidak ada solusi lagi yang lain, selain divorce (hal yang sangat dibenci Allah, tetapi diperbolehkan jika memang lebih baik harus berpisah daripada terus saling menyakiti lagi satu sama lain ke depannya).

Tentunya sebelum adanya keputusan akhir itu, pasti sudah melalui banyak pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu. Ini adalah keputusan terberat dalam hidup, karena tidak ada orang yang menikah untuk bercerai. Jika dari awal saya tau ending-nya akan terjadi perpisahan seperti ini, ya dari awal saya tidak akan memutuskan untuk menikah, karena tujuan menikah bukan untuk berpisah kan?

Ada dua kebahagiaan yang harus saya pikirkan ke depannya dan perjalanannya masih sangatlah panjang—kebahagiaan anak saya dan juga diri saya sendiri. Karena kebahagiaan itu bukan bersumber dari orang lain tetapi kita sendiri yang menciptakannya. Lalu, jika ditanya apa yang membuat saya bahagia? Saya jawab dengan lantang "PER-PI-SA-HAN"! Ya, sebuah kata yang menjadi momok menakutkan bagi banyak orang, tetapi justru itu menjadi momok yang membahagiakan bagi saya.

Bagaimana tidak? Selama 6 tahun saya terjebak dalam toxic marriage life, dan sangat sulit bagi sebagian orang untuk bisa keluar dari jeratan itu. Tidak semua orang berani untuk speak up tentang apa yang terjadi di kehidupan pernikahannya, karena takut dinilai membuka atau menyebarkan aib sendiri. Tidak semua orang juga sadar bahwa telah terjebak ke dalam toxic marriage life, karena memang orang yang toxic itu nyaris terlihat sempurna dengan love bombing-nya itu justru menjadi jurus jitu untuk menutupi kekurangannya.

Singkat cerita, saya urus semuanya dengan didampingi kuasa hukum, karena saya sudah sangat lelah untuk mengurusi hal-hal yang hanya akan menguras emosi saya lagi. Cukup sudah waktu 6 tahun untuk saya mempertahankan pernikahan yang di dalamnya ternyata saya harus berjuang sendirian. Pontang panting saya terus berusaha memberikan kebahagiaan untuk anak saya di tengah kehancuran hidup saya. Baik buruknya keputusan saya ini ke depannya harus saya pikirkan matang-matang, karena ada anak yang akan menjadi korban nantinya. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di pikiran, bagaimana nanti nasib anak kalau orang tuanya harus berpisah? Bagaimana nanti kalau anak menanyakan kondisi orang tuanya? Bagaimana nanti kehidupan anak yang hanya dibesarkan oleh satu orang tua saja? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.

Ada dua pilihan (dimana keduanya sama-sama memiliki sisi positif dan negatifnya), pertama jika saya tetap mempertahankan pernikahan (dengan alasan anak, agar anak tetap memiliki orang tua yang utuh), faktanya dengan kehadiran orang tua yang lengkap, tidak sepenuhnya menjamin hidup anak akan bahagia—apalagi jika anak melihat orang tuanya bertengkar terus—ditambah anak ikut menjadi korban kekerasan orang tuanya—dan anak menjadi alasan pelampiasan emosi orang tuanya—inilah yang dinamakan anak broken home yang sesungguhnya, anak memiliki orang tua yang lengkap namun kehidupan di dalamnya hancur berkeping-keping. Pilihan kedua, jika saya memilih mengakhiri pernikahan, pilihan terberat tetapi justru ini akan menyelamatkan dua manusia yang kondisi batin, mental, dan psikisnya terus dibuat hancur—diri saya sendiri dan anak saya tentunya. Lebih baik anak saya hidup dengan satu orang tua saja tetapi tetap bisa mendapatkan kebahagiaan seutuhnya. I promise!


 

Comments