Keputusan Terberat
Hari
demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun
berlalu, pada akhirnya saya masih bisa bertahan menjalani toxic marriage
life itu sampai akhirnya pikiran saya terbuka dan semakin paham bahwa
memang benar pernikahan yang saya jalani ini tidak sehat setelah sekian lama
saya selalu denial dengan apa yang telah terjadi.
Jauh
sebelum saya 'melek' akan toxic marriage life ini, sebenarnya saya sudah
sadar bahwa memang pernikahan saya ini sudah tidak beres bahkan dari sejak awal
menikah sebelum akhirnya saya dinyatakan hamil. Kadang terbesit di pikiran
ingin mengakhiri pernikahan saja (untungnya tidak sampai terpikir untuk
mengakhiri hidup—amit-amit), tetapi niat itu kadang saya urungkan bahwa “masa
iya baru mulai 'perang', saya sudah ingin menyerah saja”.
Saya
ini bukan lagi seorang remaja yang sedang menjalani pendekatan dimana saat
terjadi ketidakberesan dalam hubungan, bisa langsung mengeleminasi pasangan
begitu saja di tengah jalan. Saya ini tengah menjalani kehidupan pernikahan—ibadah
terpanjang dalam hidup, dan pertanggungjawabannya langsung ke Allah, jadi tidak
boleh main-main dengan pernikahan. Makanya saya begitu denial dan berpikir
ribuan kali ketika mencoba ingin mengakhiri semuanya dan terus berusaha
menjalani kehidupan rumah tangga dengan normal-normal saja seolah-olah terlihat
semuanya baik-baik saja, padahal kondisi di dalamnya sudah hancur lebur babak
belur.
Mungkin
selama bertahun-tahun saya hanya diam, tetapi dalam diam saya, otak saya terus
berputar dan berpikir apa yang harus saya lakukan. Tidak mungkin saya terus
hidup berdampingan dengan manusia seperti itu, karena seumur hidup itu terlalu
lama untuk dihabiskan dengan orang-orang yang tidak bisa memperlakukan kita
dengan baik. Akhirnya dengan berat hati, saya harus memutuskan untuk memilih
jalan terakhir karena memang sudah tidak ada solusi lagi yang lain, selain divorce
(hal yang sangat dibenci Allah, tetapi diperbolehkan jika memang lebih baik
harus berpisah daripada terus saling menyakiti lagi satu sama lain ke
depannya).
Tentunya
sebelum adanya keputusan akhir itu, pasti sudah melalui banyak
pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu. Ini adalah keputusan terberat dalam
hidup, karena tidak ada orang yang menikah untuk bercerai. Jika dari awal saya
tau ending-nya akan terjadi perpisahan seperti ini, ya dari awal saya
tidak akan memutuskan untuk menikah, karena tujuan menikah bukan untuk berpisah
kan?
Ada
dua kebahagiaan yang harus saya pikirkan ke depannya dan perjalanannya masih
sangatlah panjang—kebahagiaan anak saya dan juga diri saya sendiri. Karena
kebahagiaan itu bukan bersumber dari orang lain tetapi kita sendiri yang
menciptakannya. Lalu, jika ditanya apa yang membuat saya bahagia? Saya jawab
dengan lantang "PER-PI-SA-HAN"! Ya, sebuah kata yang menjadi momok
menakutkan bagi banyak orang, tetapi justru itu menjadi momok yang
membahagiakan bagi saya.
Bagaimana
tidak? Selama 6 tahun saya terjebak dalam toxic marriage life, dan
sangat sulit bagi sebagian orang untuk bisa keluar dari jeratan itu. Tidak
semua orang berani untuk speak up tentang apa yang terjadi di kehidupan
pernikahannya, karena takut dinilai membuka atau menyebarkan aib sendiri. Tidak
semua orang juga sadar bahwa telah terjebak ke dalam toxic marriage life,
karena memang orang yang toxic itu nyaris terlihat sempurna dengan love
bombing-nya itu justru menjadi jurus jitu untuk menutupi kekurangannya.
Singkat
cerita, saya urus semuanya dengan didampingi kuasa hukum, karena saya sudah sangat
lelah untuk mengurusi hal-hal yang hanya akan menguras emosi saya lagi. Cukup
sudah waktu 6 tahun untuk saya mempertahankan pernikahan yang di dalamnya ternyata
saya harus berjuang sendirian. Pontang panting saya terus berusaha memberikan
kebahagiaan untuk anak saya di tengah kehancuran hidup saya. Baik buruknya
keputusan saya ini ke depannya harus saya pikirkan matang-matang, karena ada
anak yang akan menjadi korban nantinya. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang
terlintas di pikiran, bagaimana nanti nasib anak kalau orang tuanya harus
berpisah? Bagaimana nanti kalau anak menanyakan kondisi orang tuanya? Bagaimana
nanti kehidupan anak yang hanya dibesarkan oleh satu orang tua saja? Dan
pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.
Ada
dua pilihan (dimana keduanya sama-sama memiliki sisi positif dan negatifnya),
pertama jika saya tetap mempertahankan pernikahan (dengan alasan anak, agar
anak tetap memiliki orang tua yang utuh), faktanya dengan kehadiran orang tua
yang lengkap, tidak sepenuhnya menjamin hidup anak akan bahagia—apalagi jika
anak melihat orang tuanya bertengkar terus—ditambah anak ikut menjadi korban
kekerasan orang tuanya—dan anak menjadi alasan pelampiasan emosi orang tuanya—inilah
yang dinamakan anak broken home yang sesungguhnya, anak memiliki orang
tua yang lengkap namun kehidupan di dalamnya hancur berkeping-keping. Pilihan
kedua, jika saya memilih mengakhiri pernikahan, pilihan terberat tetapi justru
ini akan menyelamatkan dua manusia yang kondisi batin, mental, dan psikisnya terus
dibuat hancur—diri saya sendiri dan anak saya tentunya. Lebih baik anak saya
hidup dengan satu orang tua saja tetapi tetap bisa mendapatkan kebahagiaan
seutuhnya. I promise!
Comments
Post a Comment