Toxic Marriage Life
Siapa
sangka ternyata kehidupan pernikahan yang saya jalani adalah kehidupan
pernikahan yang beracun (toxic marriage life). Awalnya saya sama sekali
tidak paham dan tidak mengerti kenapa sampai bisa muncul istilah itu. Memang
apa tanda-tandanya sampai bisa dibilang seperti itu?
Sampai
akhirnya saya beranikan diri untuk bercerita ke orang profesional—psikolog (ini
masih kakak sepupu sendiri kebetulan). Saya ceritakan bahwa selama menjalani
pernikahan, kerap kali saya mendapatkan perlakuan kasar dari pasangan
(KDRT—Kekerasan Dalam Rumah Tangga—dan ini sangat banyak sekali bentuknya).
Kekerasan
yang saya alami ini sering disebut verbal abbusive (kekerasan verbal)—kekerasan
bukan hanya fisik saja (yang lukanya langsung bisa terlihat jelas di anggota
tubuh dan ada obatnya). Namun kekerasan verbal ini justru yang lebih perih dan
parah, tidak melukai fisik, tetapi langsung melukai batin, mental dan psikis
(dan ini tidak ada obatnya, karena bisa menyebabkan trauma seumur hidup hingga
depresi berkepanjangan). Ini yang dinamakan sakit tetapi tidak berdarah kan?
Lebih bahaya dari hanya sekadar luka fisik saja.
Kalau
boleh saya rincikan beberapa kekerasan verbal yang saya alami, saya akan coba
jabarkan beberapa yang bisa saya ingat, karena untuk mengingatnya lagi akan
membangunkan emosi saya kembali.
"Lo
tuh beg*, bod*h, tol*l, kalau punya otak tuh dipake buat mikir!"
"Kalau
lo cantik dan sek*i, nggak apa-apa deh lo berani sama gue! Lah ini? Nggak ada
cakep-cakepnya aja berani sama gue!"
"Kalau
lo ngerasa kurang uang, ya cari tambahan lagi lah! Narik ojek online kek, atau
jualan online kan bisa! Fasilitasnya kan ada nih semua di rumah, komputer ada,
wi-fi ada! Percuma kalau lo nggak bisa manfaatin itu semua!"
"Lo
pulang aja sana ke rumah orang tua lo! Nggak berguna banget lo ada disini! Lo
bawa sekalian nih anak lo, biar diurusin sama nyokap lo yang udah pensiun itu!"
"Pilih
lo atau gue yang keluar dari rumah ini?"
"Lo
packing-in barang-barang lo sekarang juga, malam ini juga, biar gue pesenin
truk online!"
"Gue
ceraiin juga lo lama-lama! Nggak pantas lo jadi istri!"
"Salaman
dulu sini, biar gue yang urus semuanya!" (ini maksudnya dia mengancam saya kalau
dia benar-benar mau menceraikan saya)
Hati
wanita mana yang tidak sakit saat disakiti oleh pasangannya sendiri? Bahkan
orang tua saya saja sekalipun tidak pernah bersikap seperti itu ke saya seumur
hidup saya. Lalu, dia yang notabene-nya adalah orang baru di kehidupan
saya, bisa setega itu kepada saya. Saya ini manusia atau binatang? Kok ada ya
manusia setega itu bahkan terhadap pasangannya sendiri. Dimana letak hati
nuraninya? Apakah sebelum bertindak, sudah dipikirkan dulu baik buruknya seperti
apa? Apakah dia memikirkan dampak nanti ke depannya bagaimana? Sepertinya sih
tidak ya, karena kalau dari awal berpikir dulu sebelum bertindak, saya rasa toxic
marriage life ini tidak akan pernah terjadi di kehidupan saya.
Bahkan
kata-kata cerai itu pernah diucapkan kepada saya di depan keluarga besarnya,
termasuk orang tuanya sendiri sampai ke anaknya sendiri—anak saya juga (ya, di
depan anak kecil, polos dan tidak berdosa). Dimana harga diri saya saat itu,
karena saya sudah memilihnya untuk menjadi pasangan saya, jadi mau tidak mau,
suka tidak suka, saya harus bisa menerima segala kekurangannya, akhirnya saya
turunkan ego saya, saya rendahkan serendah-rendahnya diri saya di hadapannya
untuk tetap bisa mempertahankan menjalani kehidupan pernikahan itu.
Apakah
saat itu saya membalas perlakuannya? Sama sekali tidak. Saya tidak pernah
sedikitpun membalas apa yang telah dia perbuat ke saya dengan menyerang
kata-kata kasar kembali kepadanya, karena kalau saya balas hal yang sama,
lantas apa bedanya saya dengan dia? Akhirnya saya hanya bisa diam dengan semua
perlakuan dia ke saya, kadang sesekali menanggapi perkataannya, tidak lupa juga
sambil terus mengingatkannya kembali bahwa ibu dan anaknya juga sama-sama
perempuan seperti saya, tidakkah dia memikirkan bagaimana perasaannya jika ibu
dan anaknya sendiri diperlakukan hal yang sama oleh orang lain seperti yang
telah dia lakukan ke saya?
Kurang
lebih kira-kira seperti itu perlakuan yang saya dapatkan selama pernikahan.
Lalu saya tanyakan pada psikolog, apakah hal itu wajar terjadi di kehidupan
rumah tangga semua orang? Psikolog menjawab, "sangatlah tidak wajar dan
itu bukanlah kehidupan pernikahan yang seharusnya, karena itu termasuk salah
satu tanda dari toxic marriage life itu tadi. Memang kehidupan
pernikahan pasti ada ‘kerikil-kerikil’ di setiap perjalanannya, ada waktunya
adu argumen dan berselisih pendapat dengan pasangan, itu adalah hal yang lumrah
terjadi selama masih dalam keadaan yang sehat dan dalam batas yang wajar, bukan
dengan kekerasan verbal seperti itu."
Singkat
cerita, ternyata saya sudah terjebak dalam toxic marriage life itu
sendiri. Entah saya yang terlalu polos atau saya yang selalu denial
dengan menormalisasi hal-hal seperti itu karena menganggap setiap orang pasti
bisa berubah, nyatanya hal yang saya harapkan itu tidak pernah terjadi pada
pasangan saya saat itu karena hal itu terjadi berulang-ulang kali sepanjang
tahun pernikahan kami. Hari ini dia mengeluarkan kata-kata kasar ke saya,
esoknya dia bisa berubah menjadi manis kembali sikapnya ke saya. Begitu
seterusnya siklusnya. Sampai akhirnya saya menjadi bersikap cuek dan masa bodoh
sambil berpikir “mungkin dia lagi emosi, atau mungkin saya yang salah, jadi dia
bersikap begitu ke saya, yaudah nggak apa-apa, nanti juga dia baik lagi kok”.
Kalau dalam istilah psikolog, hal ini sering disebut love bombing dan
juga manipulatif—salah satu sikap dimana seseorang kadang bersikap manis ke
kita, lalu tiba-tiba bisa berubah menjadi seperti ‘singa’ yang dibangunkan dari
tidurnya, lalu bisa kembali bersikap manis lagi setelahnya, begitu seterusnya.
Alih-alih
ingin dibahagiakan oleh pasangan, yang ada justru saya menjalani kehidupan
pernikahan dengan penuh rasa tekanan dan kekhawatiran. Saya menjadi takut
sekali berada di dekatnya, saya takut melakukan kesalahan, saya takut membuat
dia marah lagi, saya takut kalau dia berbicara kasar lagi ke saya, dan segala
ketakutan-ketakutan yang terus membayangi pikiran saya. Lalu saya bisa apa saat
itu? Masih terus berusaha menjalani peran sebagai seorang istri dan juga
seorang ibu yang baik, sambil sesekali introspeksi diri. Masih berusaha mencari
kebahagiaan sendiri—jika memang pasangan saya tidak bisa membuat saya bahagia
saat itu, masih ada anak dan orang tua yang masih lengkap yang selalu
menguatkan saya di segala keadaan dan kondisi apapun. Mereka masih akan terus
setia menjadi best support system saya, apapun yang terjadi dan tidak
akan pernah meninggalkan saya sampai kapanpun.
Comments
Post a Comment