Skip to main content

A Day To Remember #2


Toxic Marriage Life

Siapa sangka ternyata kehidupan pernikahan yang saya jalani adalah kehidupan pernikahan yang beracun (toxic marriage life). Awalnya saya sama sekali tidak paham dan tidak mengerti kenapa sampai bisa muncul istilah itu. Memang apa tanda-tandanya sampai bisa dibilang seperti itu?

Sampai akhirnya saya beranikan diri untuk bercerita ke orang profesional—psikolog (ini masih kakak sepupu sendiri kebetulan). Saya ceritakan bahwa selama menjalani pernikahan, kerap kali saya mendapatkan perlakuan kasar dari pasangan (KDRT—Kekerasan Dalam Rumah Tangga—dan ini sangat banyak sekali bentuknya).

Kekerasan yang saya alami ini sering disebut verbal abbusive (kekerasan verbal)—kekerasan bukan hanya fisik saja (yang lukanya langsung bisa terlihat jelas di anggota tubuh dan ada obatnya). Namun kekerasan verbal ini justru yang lebih perih dan parah, tidak melukai fisik, tetapi langsung melukai batin, mental dan psikis (dan ini tidak ada obatnya, karena bisa menyebabkan trauma seumur hidup hingga depresi berkepanjangan). Ini yang dinamakan sakit tetapi tidak berdarah kan? Lebih bahaya dari hanya sekadar luka fisik saja.

Kalau boleh saya rincikan beberapa kekerasan verbal yang saya alami, saya akan coba jabarkan beberapa yang bisa saya ingat, karena untuk mengingatnya lagi akan membangunkan emosi saya kembali.

"Lo tuh beg*, bod*h, tol*l, kalau punya otak tuh dipake buat mikir!"

"Kalau lo cantik dan sek*i, nggak apa-apa deh lo berani sama gue! Lah ini? Nggak ada cakep-cakepnya aja berani sama gue!"

"Kalau lo ngerasa kurang uang, ya cari tambahan lagi lah! Narik ojek online kek, atau jualan online kan bisa! Fasilitasnya kan ada nih semua di rumah, komputer ada, wi-fi ada! Percuma kalau lo nggak bisa manfaatin itu semua!"

"Lo pulang aja sana ke rumah orang tua lo! Nggak berguna banget lo ada disini! Lo bawa sekalian nih anak lo, biar diurusin sama nyokap lo yang udah pensiun itu!"

"Pilih lo atau gue yang keluar dari rumah ini?"

"Lo packing-in barang-barang lo sekarang juga, malam ini juga, biar gue pesenin truk online!"

"Gue ceraiin juga lo lama-lama! Nggak pantas lo jadi istri!"

"Salaman dulu sini, biar gue yang urus semuanya!" (ini maksudnya dia mengancam saya kalau dia benar-benar mau menceraikan saya)

Hati wanita mana yang tidak sakit saat disakiti oleh pasangannya sendiri? Bahkan orang tua saya saja sekalipun tidak pernah bersikap seperti itu ke saya seumur hidup saya. Lalu, dia yang notabene-nya adalah orang baru di kehidupan saya, bisa setega itu kepada saya. Saya ini manusia atau binatang? Kok ada ya manusia setega itu bahkan terhadap pasangannya sendiri. Dimana letak hati nuraninya? Apakah sebelum bertindak, sudah dipikirkan dulu baik buruknya seperti apa? Apakah dia memikirkan dampak nanti ke depannya bagaimana? Sepertinya sih tidak ya, karena kalau dari awal berpikir dulu sebelum bertindak, saya rasa toxic marriage life ini tidak akan pernah terjadi di kehidupan saya.

Bahkan kata-kata cerai itu pernah diucapkan kepada saya di depan keluarga besarnya, termasuk orang tuanya sendiri sampai ke anaknya sendiri—anak saya juga (ya, di depan anak kecil, polos dan tidak berdosa). Dimana harga diri saya saat itu, karena saya sudah memilihnya untuk menjadi pasangan saya, jadi mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus bisa menerima segala kekurangannya, akhirnya saya turunkan ego saya, saya rendahkan serendah-rendahnya diri saya di hadapannya untuk tetap bisa mempertahankan menjalani kehidupan pernikahan itu.

Apakah saat itu saya membalas perlakuannya? Sama sekali tidak. Saya tidak pernah sedikitpun membalas apa yang telah dia perbuat ke saya dengan menyerang kata-kata kasar kembali kepadanya, karena kalau saya balas hal yang sama, lantas apa bedanya saya dengan dia? Akhirnya saya hanya bisa diam dengan semua perlakuan dia ke saya, kadang sesekali menanggapi perkataannya, tidak lupa juga sambil terus mengingatkannya kembali bahwa ibu dan anaknya juga sama-sama perempuan seperti saya, tidakkah dia memikirkan bagaimana perasaannya jika ibu dan anaknya sendiri diperlakukan hal yang sama oleh orang lain seperti yang telah dia lakukan ke saya?

Kurang lebih kira-kira seperti itu perlakuan yang saya dapatkan selama pernikahan. Lalu saya tanyakan pada psikolog, apakah hal itu wajar terjadi di kehidupan rumah tangga semua orang? Psikolog menjawab, "sangatlah tidak wajar dan itu bukanlah kehidupan pernikahan yang seharusnya, karena itu termasuk salah satu tanda dari toxic marriage life itu tadi. Memang kehidupan pernikahan pasti ada ‘kerikil-kerikil’ di setiap perjalanannya, ada waktunya adu argumen dan berselisih pendapat dengan pasangan, itu adalah hal yang lumrah terjadi selama masih dalam keadaan yang sehat dan dalam batas yang wajar, bukan dengan kekerasan verbal seperti itu."

Singkat cerita, ternyata saya sudah terjebak dalam toxic marriage life itu sendiri. Entah saya yang terlalu polos atau saya yang selalu denial dengan menormalisasi hal-hal seperti itu karena menganggap setiap orang pasti bisa berubah, nyatanya hal yang saya harapkan itu tidak pernah terjadi pada pasangan saya saat itu karena hal itu terjadi berulang-ulang kali sepanjang tahun pernikahan kami. Hari ini dia mengeluarkan kata-kata kasar ke saya, esoknya dia bisa berubah menjadi manis kembali sikapnya ke saya. Begitu seterusnya siklusnya. Sampai akhirnya saya menjadi bersikap cuek dan masa bodoh sambil berpikir “mungkin dia lagi emosi, atau mungkin saya yang salah, jadi dia bersikap begitu ke saya, yaudah nggak apa-apa, nanti juga dia baik lagi kok”. Kalau dalam istilah psikolog, hal ini sering disebut love bombing dan juga manipulatif—salah satu sikap dimana seseorang kadang bersikap manis ke kita, lalu tiba-tiba bisa berubah menjadi seperti ‘singa’ yang dibangunkan dari tidurnya, lalu bisa kembali bersikap manis lagi setelahnya, begitu seterusnya.

Alih-alih ingin dibahagiakan oleh pasangan, yang ada justru saya menjalani kehidupan pernikahan dengan penuh rasa tekanan dan kekhawatiran. Saya menjadi takut sekali berada di dekatnya, saya takut melakukan kesalahan, saya takut membuat dia marah lagi, saya takut kalau dia berbicara kasar lagi ke saya, dan segala ketakutan-ketakutan yang terus membayangi pikiran saya. Lalu saya bisa apa saat itu? Masih terus berusaha menjalani peran sebagai seorang istri dan juga seorang ibu yang baik, sambil sesekali introspeksi diri. Masih berusaha mencari kebahagiaan sendiri—jika memang pasangan saya tidak bisa membuat saya bahagia saat itu, masih ada anak dan orang tua yang masih lengkap yang selalu menguatkan saya di segala keadaan dan kondisi apapun. Mereka masih akan terus setia menjadi best support system saya, apapun yang terjadi dan tidak akan pernah meninggalkan saya sampai kapanpun.


 

Comments