Berbicara tentang skala prioritas, setiap orang memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda-beda. Bagiku, prioritas adalah suatu hal yang sangat penting dalam hidup. Lebih kepada hati yang bergerak, bukan lagi soal ego yang berkehendak. Semenjak takdir merubah statusku menjadi seorang ibu tunggal selama hampir 3 tahun ini, aku dituntut untuk menjadi seorang wanita dan juga seorang ibu yang lebih kuat dan tangguh, terutama dalam menentukan sebuah pilihan dalam hidup, aku harus bisa membedakan mana yang menjadi prioritasku saat ini, dan mana hal yang perlu kukesampingkan, bukan lantas hal itu menjadi tidak penting buatku, tetapi karena ada hal lain yang sudah menjadi prioritasku.
ANAK! Ya, kekuatan yang selama ini aku dapatkan berasal dari anak, seorang malaikat kecil yang Allah titipkan untukku 8 tahun lalu untuk menemani hidupku benar-benar bisa menjadi sumber kekuatan untukku. Separuh jiwaku ada dia. Separuh hatiku ada dia. Separuh nafasku ada dia. Separuh hidupku juga ada dia. Anak semata wayang yang mampu membuat rasa sedihku hilang, membuat rasa lelahku sirna.
Tak pernah terpikirkan, bagaimana hidupku jika tidak ada dia. Mungkin selama 3 tahun belakangan ini, aku bisa hidup tanpa suami, tetapi tidak pernah terbayangkan jika hidupku tanpa anak. Sebuah amanah yang sangat besar dalam hidup yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari akhir nanti. Itulah alasannya, aku tidak pernah main-main sedikitpun dalam mengurus, membimbing, dan mendidik anak meski aku harus berjalan seorang diri.
Kalau anak sukses, siapa yang bangga? Aku. Kalau anak gagal, siapa yang sedih? Aku juga. Tidak ada orang lain di dalamnya yang ikut bertanggung jawab atas itu, semua yang bertanggung jawab ya hanya aku sendirian. Masa pertumbuhan seorang anak akan terus berjalan, semakin hari ia akan semakin tumbuh bertambah dewasa. Waktu tidak dapat diulang dan diputar kembali. Jadi, aku benar-benar tidak ingin membuat diriku sendiri kecewa bahkan menyesal atas itu.
Aku ingin anakku tumbuh menjadi seorang anak yang sukses dan bangga atas dirinya sendiri, atas pencapaian yang sudah ia perjuangkan, atas kerja keras yang sudah ia lakukan. Sebagai ibu, aku bertugas mendampingi tumbuh kembangnya. Aku akan selalu dukung dan menjadi garda terdepan apapun yang ia ingin lakukan selagi itu adalah yang terbaik untuknya.
Semoga ia bangga memiliki ibu sepertiku. Kalo aku, tidak perlu ditanya lagi, sudah pasti bangga memiliki anak seperti dia. Terima kasih sudah menjadi anak yang sangat kooperatif selama ini. Terima kasih sudah mau menerima segala kurang dan salahku. Terima kasih sudah menjadi sumber kekuatanku selama ini.
Mari kita terus berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, sesekali sambil berpelukan untuk terus saling menguatkan diri satu sama lain, jika lelah kita menepi sejenak istirahatkan hati dan pikiran, setelahnya kembali berjalan lagi untuk bisa sampai ke ujung jalan yang indah disana.
Comments
Post a Comment