Skip to main content

Level Up

Aku tidak pernah menyangka sebelumnya akan berjalan sampai sejauh ini (seorang diri, sekali lagi aku tekankan, seorang diri) untuk membersamai anak semata wayangku. Mendampingi setiap hari-harinya, menjadi guru terbaik di rumah, menjadi support system no 1 di hidupnya dalam segala hal. Bagaimana mungkin ternyata aku bisa menjalani semua itu sampai hari ini, kalau bukan Allah yang Maha Segalanya, mana mungkin aku bisa bertahan sampai sejauh ini.

Hari ini, Kamis 25 Juni 2026 menjadi saksi nyata setahun ke belakang bahwa perjuangan, usaha & kerja kerasku dan anakku membuahkan hasil. Sebelum dijalani, bagiku setahun rasanya lama sekali, membayangkan angka dari 12 bulan, 49 minggu, 365 hari itu sangat panjang sekali, namun setelah dijalani, setahun ternyata berjalan sangat cepat sekali.

(Mari kita flashback sejenak)

Setahun yang lalu, aku disibukkan memilih sekolah terbaik untuk anakku. Dulu aku bingung mau menyekolahkan anak kemana (karena sempat tinggal di Depok & sangat minim informasi seputar sekolah terbaik di Depok). Ternyata takdir berkata lain, aku pindah dari Depok ke Jakarta (kembali ke rumah orang tuaku). Surprisingly, aku tidak perlu bingung lagi untuk memilih sekolah karena SD terbaik di dekat rumah orang tuaku sangat banyak, jadi aku punya banyak pilihan untuk mempertimbangkan. Ternyata memang rezeki anakku untuk sekolah di Jakarta.

Setelah berhasil diterima di SD pilihan, aku disibukkan lagi di kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) sekitar 3 hari. Minggu berikutnya sudah mulai resmi belajar di kelas 1. Aku sebagai seorang ibu pekerja, tentu pasti tidak memiliki banyak waktu untuk bisa terus mendampingi anak 24/7. Tapi aku selalu berusaha semaksimal mungkin untuk tetap meluangkan waktu menemani anak belajar, mengerjakan tugas sekolah, ulangan harian, bahkan sampai ujian akhir tiba. Anak ribet sama tugas sekolah, anak pusing saat mau ulangan harian atau ujian akhir, aku bisa 2x lebih ribet & lebih pusing dari dia. -_-

Tapi ya benar adanya seperti kata pepatah "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Usaha & kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasilnya. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai. Apa yang kita usahakan, doakan & perjuangkan, ya itu juga yang akan kita nikmati hasilnya kemudian.

Setelah selesai ujian akhir di awal Juni ini, beberapa hari belakangan ini, aku dibuat mellow terus-terusan. Penuh sekali rasanya, campur aduk jadi satu, bangga, bahagia, terharu, ternyata kami berhasil melalui 1 fase dalam hidup berduaan saja. Kami saling menguatkan satu sama lain. Tapi, di balik kekuatan yang kami miliki, dukungan dari pihak keluargalah yang cukup besar turut andil dalam hidup kami & tentunya juga karena kekuatan dari Allah lah yang bisa membuat kami berada sampai di titik ini.

Anakku dinyatakan naik kelas 2 dengan nilai dari hasil belajarnya selama 2 semester kemarin yang sangat memuaskan. Perjuangan gurunya dalam membimbing & mendidiknya di sekolah, perjuangan aku sendiri sebagai orang tua yang tidak pernah lelah mendampingi & membersamai dalam setiap proses belajarnya & tentunya perjuangan, usaha serta kerja keras anakku sendiri yang selalu pantang menyerah di setiap halnya.

Ini yang dinamakan the real level up! Bukan cuma anak yang naik level, tapi aku juga naik level. Aku yang sudah 3 tahun 'hidup sendiri' membesarkan anak seorang diri, ternyata aku mampu untuk sampai di titik ini. Berat, sulit, tapi harus dijalani. Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, akan seperti apa hidupku ke depannya, namun saat aku selalu percaya pada Allah, aku serahkan semuanya pada-Nya, nyatanya hidupku sampai hari ini masih baik-baik saja & berharap seterusnya pun juga akan selalu baik-baik saja.


Comments

Popular posts from this blog

Agustus, untuk Harapan yang Tak Pernah Putus

  Welcome Agustus!!! Kenapa aku begitu semangat sekali menyambut bulan Agustus? Karena ini adalah bulan kelahiranku, dimana aku harus selalu bersyukur atas nikmat dan karunia yang Allah berikan untukku karena aku masih diberikan kesehatan dan umur panjang sampai hari ini. Sungguh, nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan? Dari banyaknya kesalahan dan kekhilafan kita, tapi Allah masih tetap memberikan nikmatnya untuk kita, tapi Allah masih sayang sama hamba-hamba Nya, tapi Allah selalu memaafkan dan mengampuni semua dosa-dosa kita. Agustus, untuk harapan yang tak pernah putus. Percaya nggak? Kalau kita mengulang doa-doa yang sama setiap hari setiap waktu, itu seperti seseorang yang mengayuh sepedanya untuk bisa sampai ke tempat tujuan akhirnya. Begitulah seperti doa. Jangan pernah lelah berdoa dan mengulang doa-doa yang sama. Jangan pernah malu sama Allah kalau kita punya banyak permintaan, keinginan, dan harapan. Tapi malulah kalau kita sebagai hamba Allah yang tidak berdaya ini ti...

A Day To Remember #6 - End

  Move On ! Kini saatnya saya untuk move on dan mulai bangkit dari keterpurukan! No man, no cry ! Hahaha. J Kerja, kerja, kerja, anak, anak, anak, sampai akhirnya tidak terasa sudah berjalan hampir mau 2 tahun ini saya menjalani peran sebagai ibu tunggal. Siapa sangka, ternyata saya bisa lho! Luar biasa bangganya saya pada diri sendiri yang sudah bisa bertahan sampai sejauh ini (yang kalau dipikir-pikir lagi, awalnya ragu akankah saya sanggup menjalaninya). Tetapi Allah menjadikan saya sangat kuat bahkan lebih kuat dari apa yang saya pikirkan dan bayangkan sebelumnya. Setiap orang pasti memiliki masa lalu (yang kelam), termasuk diri saya sendiri. Jadi untuk apa hanya fokus memikirkan masa lalu saja, sedangkan masa depan (yang indah) sudah menanti. Masa lalu itu bukan untuk diratapi, tetapi untuk diresapi dan dijadikan pelajaran sebagai bekal untuk menjalani masa depan yang lebih baik lagi. Doakan saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih tegar, kuat dan semangat lagi, yang...

Skala Prioritas

Berbicara tentang skala prioritas, setiap orang memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda-beda. Bagiku, prioritas adalah suatu hal yang sangat penting dalam hidup. Lebih kepada hati yang bergerak, bukan lagi soal ego yang berkehendak. Semenjak takdir merubah statusku menjadi seorang ibu tunggal selama hampir 3 tahun ini, aku dituntut untuk menjadi seorang wanita dan juga seorang ibu yang lebih kuat dan tangguh, terutama dalam menentukan sebuah pilihan dalam hidup, aku harus bisa membedakan mana yang menjadi prioritasku saat ini, dan mana hal yang perlu kukesampingkan, bukan lantas hal itu menjadi tidak penting buatku, tetapi karena ada hal lain yang sudah menjadi prioritasku. ANAK! Ya, kekuatan yang selama ini aku dapatkan berasal dari anak, seorang malaikat kecil yang Allah titipkan untukku 8 tahun lalu untuk menemani hidupku benar-benar bisa menjadi sumber kekuatan untukku. Separuh jiwaku ada dia. Separuh hatiku ada dia. Separuh nafasku ada dia. Separuh hidupku juga ada dia. Anak ...