Selepas 3 tahun lalu setelah aku pergi umroh, yang sebelumnya tidak pernah terlintas di pikiran kalau Allah akan secepat itu mengundangku untuk datang ke rumah-Nya. Namun setelahnya, aku jadi semakin sering bertanya-tanya pada diri sendiri bagaimana caranya supaya aku bisa kembali lagi kesana dalam waktu dekat?
Aku percaya, bahwa umroh ataupun berhaji adalah tentang panggilan hati, bukan soal mampu atau tidak mampu, karena Allah akan memampukan siapapun yang hatinya sudah terpanggil. Dan itu terjadi pada diriku sendiri, tiba-tiba Allah mampukan, Allah mudahkan, Allah lancarkan semua prosesnya dari awal hingga akhir.
Rezekiku ternyata melalui ibu. Kalau saja ibu waktu itu tidak mengajakku untuk menemaninya untuk umroh, mungkin sampai hari ini aku belum pernah kesana, bahkan terpikir di pikiran untuk kesanapun masih sangat jauh sekali dari bayangan. Karena jika dihitung secara kalkulator manusia biasa sepertiku, angka yang dibutuhkan untuk kesana masih sangat jauh dari harapan. Namun berbeda dengan kalkulator Allah, yang selalu bisa menyulap suatu hal yang dirasa mustahil & tidak mungkin bisa menjadi kenyataan dalam sekejap.
3 tahun berlalu, tahun ini ibu mendapat panggilan berhaji. Masya Allah, sangat terharu sekali, tidak henti-hentinya aku menitikkan air mata, karena perjuangan, kesabaran & penantian panjang ibu akhirnya Allah wujudkan juga. Tapi kali ini aku tidak bisa menemaninya kembali, karena aku sendiripun belum mendaftar haji. Ibu sempat bilang, jika 5 tahun lalu aku sudah mendaftar, meski masa tunggunya masih sangat lama, ibu bisa menarikku untuk menjadi pendamping ibu. Ya karena memang belum ada panggilan hati untuk mendaftar pada saat itu & memang belum waktunya juga aku untuk berhaji bersama dengan ibu. Tidak apa-apa, aku terus berdoa & berusaha memantapkan & memantaskan diri agar aku juga bisa segera menyusul ibu untuk berhaji di waktu yang tepat & dalam keadaan yang terbaik.
Menjelang Hari Arafah tiba, perasaanku campur aduk, haru, bahagia, sedih juga & tentunya iri pada jutaan umat-Mu yang Kau panggil untuk berhaji di tahun ini. Hanya titip doa pada ibuku yang bisa aku lakukan. Kusampaikan semua hajat-hajatku pada ibu. Memohon doa langsung disana & berharap Allah akan dengar & kabulkan semuanya, karena saat Hari Arafah tiba, Allah lah yang langsung turun ke bumi. Jika Malam Lailatul Qadr tidak diketahui waktunya kapan & hanya malaikat yang turun ke bumi, di Hari Arafah ini sudah diketahui waktunya & langsung Allah yang turun ke bumi untuk mendengar & mengabulkan semua doa-doa umat-Nya yang berhaji. Masya Allah.
Ya Allah, kalau panggilan umroh waktu itu aku memang belum siap, namun pada akhirnya aku siap. Kali ini, aku siap kapanpun jika Kau undang kembali aku untuk umroh berkali-kali, bahkan jika aku menjadi tamu-Mu untuk berhaji, aku siap lahir & batin. Bismillah. Tidak ada yang tidak mungkin jika Engkau sudah berkehendak. Apapun bisa terjadi atas Kuasa-Mu, di luar kuasa manusia biasa.
Labbaik Allahumma Labbaik.
Comments
Post a Comment